Oleh: penaklukhati | Maret 7, 2010

hujan sore ini

Hujan sore ini tak seperti biasa. Air begitu deras bertumpahan dari langit disertai angin kencang. Hatiku ngeri.. Oh Tuhanku. Aku ngeri jika bencana terjadi. (Mana listrik juga mati.. Aku jadi teringat Tsunami, Situ Gintung, berita banjir di TV-TV.Apa jadinya diriku jika direngkuh bencana?). Dengan doa-doa sederhana aku meminta keselamatan. Selamatkanlah aku yang sedang menuntut ilmu ini. Kini kulihat betapa tidak berdayanya diriku. Dalam ketakutan ini segala jadi tak berarti. Siapa bisa menolong selain Engkau yang Maha Tinggi. 

Oleh: penaklukhati | September 29, 2009

I’m about leaving home..

Sebentar lagi aku kan berangkat ke Malang. Saatnya berjibaku dengan buku-buku dan atmosfer akademika. Dengan tubuh yang masih setengah ringkih ini. Hanya kuucapkan La Haula Wala Quwwata Illa Billah.. mudah-mudahan semangat baruku bisa jadi obat yang mujarab.

Sesungguhnya ada kepedihan juga disini setelah 2 minggu terkondisi dengan suasana rumah. My beloved family, my pets, nenekku tercinta, udara desa, sawah-sawah itu,.. semuanya adalah eldorado buatku. Takkan bisa kutemukan ditempat lain yang seperti ini. No home like my home.. It’s only sweet home…it’s a sanctuary. Tiba-tiba jadi mellow meresapi makna home.. home yang jarang kusentuh tetapi selalu hidup di hati. Betapa panjang pengembaraanku di luar, dan rumah ini selalu menjadi tempat berlabuh disaat aku tak punya energi lagi untuk bergerak. Kepedihan ini selalu jadi penyakit langganan setiapkali pulang dan harus pergi lagi. Kepedihan orang-orang rantau yang bermimpi. Walau mungkin mimpiku tak banyak dimengerti oleh orang-0rang di desaku, ya a dream is a dream. Aku bahkan ingin patahkan Rene Descartes yang selalu bangga bilang I think therefore I am itu dengan bilang I dream therefore I am.

Nanti ketika jarum jam menunjuk pukul delapan aku akan memacu kuda jepangku ke Malang.Aku harus berjuang buddy..memperjuangkan cita-citaku yang kugantung setinggi langit. Nanti..aku juga akan kembali kesini membawa mimpiku yang sudah jadi. Nanti aku berharap bisa membawa banyak manfaat buat semua orang disini. Nanti.. tunggu aku.

Oleh: penaklukhati | September 26, 2009

Dari Sakit Aku Belajar

semula sakit ini serasa siksa

ditengah harapanku tentang eldorado

setiap detik kukutuk nasibku sendiri

akulah yang terputus,

akulah yang terhempas

hidup hanya sekumpulan ketidakpuasan

sampai aku lelah melawan

lalu ia datang dalam wujud baru

seperti mahaguru mengajari sang murid

dibukakan mataku akan fakta

banyak sekali pelajaran yang bisa kubaca

Oleh: penaklukhati | September 19, 2009

Aroma Lebaran di Desaku

seminggu yang lalu aku datang dari Malang dengan semangat berganda. betapa tidak sudah sebulan otakku diperas dalam matrikulasi yang “grey” itu. Banyak sekali hal yang susah kumengerti dalam administrasi publik sehingga mesti mereset kembali kemampuan sel abu-abuku yang sudah mulai berkarat sejak jarang diasah selama hampir 4 tahun. Oh my home village.. seperti oase ditengah terik membakar. Khayalanku sudah yang indah-indah membayangkan suasana rumah. Mungkin seperti perasaan para buruh migran di negeri orang yang membawa kemerlap perantauan di kampung halaman. Bedanya: aku cuma bawa hati baja buat menampung semua pertanyaan sosial. Kapan kawin?kawin kapan?..aku yakin di lebaran kali ini akan lebih banyak lagi pertanyaan karena pertanyaan mereka tidak terjawab selama satu tahun ini. Hmm.. benar saja. eforia di kampung halaman ternyata cuma sesaat saja. Setelah itu aku merasa hatiku teraduk-aduk bermacam perasaan karena selama kutinggalkan banyak sekali berita yang terlewat, banyak sekali suasana yang berganti, dan banyak lagi yang membuatku jadi ketinggalan kereta. lalu aku jadi mellow karena mengenang yang lewat itu.

di luar sana orang-orang berbenah. hampir setiap rumah pada bebersih dan menampilkan performance yang terbaik dari rumahnya. banyak tetanggaku yang beli kursi baru, motor baru, and pokoknya semua hal yang bisa ditampilkan saat ada tamu berkunjung nanti. jadi, lebaran kaya ajang exhibition aja biar orang-orang pada melihat siapa kita. lalu aku lihat rumahku. dari dulu ya begitu-begitu saja. plafon banyak jebol disana-sini. perabot ga ada baru dari 7 tahun lalu, dan tembok makin kusam saja. penampilan rumahku tak cukup memiliki rating buat dikagumi. mungkin kaya penghuninya juga. masih seperti-seperti ini saja sejak jadi mahasiswa baru. tak punya pengagum kecuali 4 ekor kura-kura, 3 ekor kambing betina dan 2 ekor anak kambing yang baru lahir…(mereka semua mengagumi sentuhanku yang pets lover banget..hmmm).

biar begitu kadang-kadang suasana sekitar bisa jadi renungan lucu yang kukenang-kenang. kaya kemarin pas ada tetanggaku yang jadi buruh migran di Singapore pulang. ada sesuatu yang menggelitik sel abu-abuku. Culture shock tetanggaku yang sudah 4 tahun tak pulang dari perantauan. culture shocknya aneh pula, masak ketika ketemu aku dia masih bertanya siapa aku? Hahhhh… 4 tahun rupanya bikin dia amnesia. ketika kutanya dengan heran masak sih lupa wajahku eh.. dia bilang katanya susah bedain aku ma adikku. oke deh aku bisa maklum kalo susah bedain aku ma adikku karena memang aku ma adikku mirip. tapi tadi dia bilang lupa sama wajahku dan masih bertanya siapa aku berarti aku ini terhapus dari ingatanyya yah. walah.. walah… ya sudah akhirnya aku berlalu darinya sambil menyilakan dia mampir di rumahku yang berhadapan langsung dengan rumahnya. Eee.. dia malah berlinang airmata kaya di sinetron manohara. aku bertanya apa lagi. air mata apa ya itu?? ah.. embuhlah aku mending nyingkir saja dari pada menyaksikan hal yang lebih aneh lagi. besoknya adikku yang biasa ditelepon tetanggaku ketika di perantauan menemui tetanggaku itu. eh.. begitu ketemu dia seolah terganggu dengan kehadiran adikku. kok bisa gitu ya. padahal ketika belum ketemu di telpon mesranya setengah mati setelah ketemu malah kaya nyuruh pergi. ada apa denganmu tetanggaku?? lalu adikku merasa tak nyaman dengannya dan permisi pulang. dan ternyata adikku dihantar dengan airmata juga sama tetanggaku. ah jadi bingun. sakit psikologi apa kiranya tetanggaku dari singapura. padahal kalo liat tampilannya sekarang dia tuh dah bikin lompatan 2oo meter keatas, kedepan, and ke mana lagi ya. sekarang aja dia gayanya dah kaya gadis kota lengkap dengan kemayunya. pokoknya tampilan sedesa kalah deh. tapi ternyata di dalam ada gap psikologis yang tak mampu ia atasi. dia masih belum bisa switch kali singapore itu beda ma sini yang ndueso. dan segala pertentangan batin itulah yang menghasilkan airmata yang kupertanyakan itu.

begitulah..

Oleh: penaklukhati | September 19, 2009

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Kategori